Connect with us
alterntif text

Opini

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)

Published

on

“HMI Mengemban Dua Tugas yakni Tugas Negara dan Tugas Agama”

Oleh : Dr. dr. Syamsa Latief, M.Kes.,Sp. KKLP (Mantan Ketua Kahmi Sidrap)

SIDRAP–Sekilas sejarah kelahiran HMI
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kadangkala sulit dimengerti dan bahkan
membingungkan bagi sebagian orang. Inilah gejala keislaman dan keindonesiaan di
Indonesia gara-gara HMI. Masih ingat polemik dan kontroversi pemikiran tokoh HMI (sekaligus tokoh KAHMI) Nurcholish Madjid (dipanggil Cak Nur) sejak tahun 70-an?
Sejak kelahirannya hingga kini, HMI telah menunjukkan kiprahnya dalam
perubahan sosial budaya masyarakat Indonesia sebagai bangsa Indonesia dalam wadah satu negara yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah HMI telah mencatatnya.

Meskipun gelombang kiprah itu turun naik, namun gerakannya tiada pernah berhenti
karena senantiasa terpadu dalam keislaman dan keindonesiaan.Untuk dapat memahami keislaman dan keindonesiaan itu, maka ada baiknya kita memulai dengan mengenal sejarah HMI.

Bukankah August Comte (1798-1857 M) telah
menyatakan bahwa untuk memahami sesuatu mulailah dengan mempelajari sejarahnya (to understand a science it is necessary to known its history).Nah, untuk menyambut Dies Natalis HMI yang ke-74 tanggal 5 Februari 2021 maka untuk lebih memahami HMI marilah kita memulai dengan menyimak latar belakang berdirinya HMI. Latar belakang itu meliputi latar belakang sejarah dan latar belakang pemikiran. Latar Belakang Sejarah
Menurut A Dahlan Ranuwiharja (cit. Sitompul, 1986), latar belakang sejarah
berdirinya HMI belum banyak diketahui dan dibaca kalangan luas. Karena itu diperlukan
kajian terhadap uraian tulisannya, mengingat beliau adalah salah seorang tokoh senior HMI dan termasuk Pengurus Besar HMI di masa awal.

Belum setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tahun 1946 telah berdiri
satu organisasi kemahasiswaan yakni Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY).
Anggotanya meliputi seluruh mahasiswa dari tiga Perguruan Tinggi yang sudah berdiri di
Yogyakarta yakni Sekolah Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI) dan Balai
Perguruan Tinggi Gadjah Mada. Yang disebut terakhir ini memiliki dua Fakultas: Hukum
dan Sastra; cikal bakal Universitas Gadjah Mada. Kehidupan mahasiswa PMY masih menunjukkan identitas ala dunia mahasiswa di masa kolonial Belanda. Mereka senang dengan pesta, dansa-dansi disertai dengan
minuman keras hingga mabuk.

Di samping itu PMY sama sekali tidak memperhatikan kepentingan para mahasiswa di dalam beragama. Ceramah agama tidak pernah diselenggarakan. Tidak memperhatikan kewajiban mahasiswa Islam untuk shalat maghrib saat kuliah berlangsung. Jadi aspirasi keagamaan mahasiswa tidak tersalurkan. Inilah yang
sebenarnya sudah merupakan alasan yang kuat bagi para mahasiswa yang beragama Islam untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berdiri sendiri terpisah dari PMY.

Untuk mendirikan organisasi mahasiswa Islam pada waktu itu masih mempertimbangkan ancaman agresi Belanda sehingga mendahulukan kepentingan
persatuan mahasiswa untuk menghadapi agresi Belanda. Selanjutnya alam politik pun
melahirkan polarisasi pemerintah yang didukung partai sosialis dengan pihak oposisi yang dipelopori Partai Masyumi dan PNI.

Polarisasi ini berawal dari pendirian masing-masing yang bertolak belakang. Partai Sosialis (Pemerintah) menitik beratkan perjuangan memperoleh pengakuan kedaulatan dengan perjuangan berdiplomasi sedangkan pihak oposisi menekankan pada perjuangan bersenjata melawan Belanda.

Polarisasi ini membawa-bawa mahasiswa karena sebagian besar anggota dan
Pengurus PMY berorientasi sosialis. Melalui mereka Partai Sosialis mencoba mendominir
PMY. Para mahasiswa murni dan independen bertekad untuk tidak membiarkan sepak
terjang Partai Sosialis ini. Sementara situasi semakin kritis, karena Belanda makin
memperkuat diri dan kemudian melancarkan agresi I pada 21 Juli 1947.

Upaya Partai Sosialis untuk mendominir PMY semakin mendorong beberapa orang
mahasiswa mendirikan organisasi baru. Hasrat dan keinginan ini sebenarnya sejak lama sudah ada. Namun, karena momentumnya dianggap belum tepat maka keinginan itu ditunda.

Perkembangan selanjutnya, situasi berubah. Sikap menunda mendirikan organisasi
mahasiswa Islam sudah tidak tepat lagi karena membiarkan dominasi ini berarti
membiarkan polarisasi mahasiswa berlangsung terus. Polarisasi ini justru akan semakin melemahkan potensi mahasiswa. Krisis keseimbangan spiritual mahasiswa (bukan mahasiswa Islam saja, tetapi juga mahasiswa Katolik, Kristen) – dikotomi disiplin ilmu umum dan ilmu agama. Situasi umat Islam yang terpecah belah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik yang miskin lagi bodoh. Masa revolusi, menghadapi agresi Belanda,mempertahankan kemerdekaan.
Latar Belakang Pemikiran Latar belakang pemikiran mendirikan HMI boleh dikatakan identik dengan latar belakang pemikiran Lafran Pane.

alterntif text

Pemikiran Lafran Pane (mahasiswa) tentunya dipengaruhi oleh realitas dan setting sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan agama. Suatu proses komunikasi ekspresi terhadap lingkungannya, keadaan lingkungan jauh sebelumnya, sehingga tidak terlepas dari konteks historis.

Pemikiran Lafran Pane ini hanya dapat dipahami jika diletakkan dalam bingkai
proses sejarah atau tradisi panjang sejarah diri, agama dan bangsanya. Jika ditelusuri
menurut Sitompul (2002) latar belakang tersebut adalah :

1. Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan Perang Kemerdekaan. Kolonialisme
Belanda sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia :
a. Aspek Politik: Indonesia menjadi objek jajahan Belanda.
b. Aspek Pemerintahan: Indonesia berada di bawah Pemerintahan Kerajaan Belanda.
c. Aspek Hukum: Hukum berlaku diskriminatif.
d. Aspek Pendidikan.
e. Aspek Ekonomi: Bangsa Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang lemah.
f. Apek Kebudayaan: masuk dan berkembangnya kebudayaan yang bertentangan
dengan kepribadian bangsa Indonesia.
g. Aspek Hubungan Keagamaan: masuk dan berkembangnya agama Kristen di
Indonesia, dan umat Islam mengalami kemunduran.
2. Kesenjangan dan kemujudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman, penghayatan,dan pengamalan ajaran Islam.
a. Kebutuhan akan Pemahaman dan Penghayatan Keagamaan.
b. Munculnya Polarisasi Politik.
c. Berkembangnya Paham dan Ajaran Komunis.
d. Kedudukan Perguruan Tinggi dan Dunia Kemahasiswaan yang Strategis.
e. Kemajemukan Bangsa Indonesia.
f. Tuntutan Modernisasi dan Tantangan Masa Depan.

Proses Berdirinya HMI
Prakarsa Lafran Pane untuk mendirikan organisasi mahasiswa Islam telah ada sejak
awal menjadi Mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam, cikal bakal UII). Lafran Pane mengadakan pembicaraan dengan teman-temannya. Setelah menganggap sudah cukup mendapat dukungan, bulan November 1946 Lafran Pane melaksanakan rapat-rapat dengan mengundang para mahasiswa Islam yang ada di Yogyakarta (STI, STT dan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada). Rapat-rapat ini hanya dihadiri lebih kurang 30 orang mahasiswa (di antaranya terdapat Pengurus PMY dan GPII). Meskipun rapat sudah berulang kali dilaksanakan, namun belum juga membuahkan hasil karena ditantang oleh PMY dan GPII. Lafran Pane tidak kehabisan akal. Lafran Pane melaksanakan rapat mendadak tanpa undangan, dengan menggunakan jam Kuliah Tafsir Husein Yahya (alm).Ketika itu hari Rabu Pon 1878, 14 Rabiulawwal 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 M, di salah satu ruangan kuliah STI di Jalan Setyodiningratan 30 (sekarang Jalan Panembahan Senopati) Yogyakarta, masuklah mahasiswa Lafran Pane langsung berdiri di depan kelas dan memimpin rapat. Dalam prakatanya, Lafran Pane mengatakan : Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena semua persiapan yang diperlukan sudah beres. Selanjutnya pimpinan rapat meminta kesediaan Bapak Husein Yahya memberikan sambutan. Namun beliau keberatan, karena kurang mengerti apa yang akan disampaikan sehubungan dengan tujuan rapat itu. Di samping itu beliau berpendapat bahwa biarlah mahasiswa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Langkah selanjutnya, Lafran Pane dalam memimpin rapat mengatakan:

Pertama: Rapat hari ini dalah rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, di mana Anggaran Dasar-nya sudah disiapkan.
Kedua: Hari ini bukan lagi mempersoalkan perlu atau tidaknya, setuju atau menolak
untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Islam.
Ketiga: Di antara saudara-saudara boleh ada yang setuju dan boleh ada yang menolak.
Namun demikian walaupun masih ada yang tidak setuju, pada hari ini juga organisasi
mahasiswa Islam ini, secara formal harus berdiri karena persiapannya sudah matang.

Setelah diselang-selingi pertanyaan dan penjelasan, rapat pada hari itu dapat
berjalan lancar. Semua hadirin menyatakan sepakat dan berketetapan hati mengambil
keputusan:
Pertama: Hari Rabu Pon 1878, tanggal 14 Rabiul Awwal 1366 H / 5 Februari 1947 M,
menetapkan berdirinya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI, yang bertujuan :
1. Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat
Indonesia.
2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
Kedua: Mengesahkan Anggaran Dasar HMI. Adapun Anggaran Rumah Tangga akan
dibuat kemudian.
Ketiga: Membentuk Pengurus HMI
Memperhatikan tujuan (rumusan awal) ini, sangatlah jelas bahwa sejak kelahirannya HMI mengemban dua tugas yakni tugas Negara dan tugas Agama, sehingga
HMI merupakan bagian mutlak yang tidak terpisahkan dari hidup dan kehidupan bangsa.

DIRGAHAYU HMI

Advertisement
alterntif text
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

enrk

enrk

Facebook

Terpopuler