Connect with us
alterntif text

Nasional

‘Bahaya Tersembunyi’ Jadi Perempuan Pengungsi di Indonesia

Published

on

Menjadi perempuan yang mengungsi, baik karena bencana alam, konflik, ataupun perang tidak pernah mudah, apalagi untuk anak dan perempuan.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, perempuan pengungsi juga kerap mengalami ‘bahaya’ lainnya di pengungsian. Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Venny Aryani mengatakan Indonesia bukan negara yang ramah untuk perempuan pengungsi.

Komnas Perempuan menyebut perempuan pengungsi, khususnya di Indonesia, sangat rentan menghadapi kekerasan seksual atau sexual gender-based violence (SGBV).
Hal ini tercermin dari minimnya perlindungan hukum dan profesionalitas aparat negara di lapangan.

“Bisa dianggap negara melakukan pembiaran. Kasus kekerasan seksual di Aceh, terulang kembali saat bencana di Palu dan Lombok. Belum ada pemahaman yang baik dari aparat di lapangan soal perlindungan khusus perempuan,” kata Venny saat ditemui di Kantor Komnas Perempuan, Rabu (5/12).

Berkaca dari pengungsian pada masa daerah operasi militer (DOM) Aceh era 1990-an dan tsunami pada 2004, Komnas Perempuan menyebut 40 persen perempuan pengungsi mengalami kekerasan seksual.

Venny mengungkapkan ada banyak bentuk kekerasan seksual yang dialami perempuan pengungsi, dari pelecehan seperti diintip saat sedang mandi dan menyusui hingga pemerkosaan.

Dia mengungkap pelecehan seksual ini justru datang dari keluarga terdekat ataupun aparat keamanan yang bertugas.

“Di Aceh itu sekitar ratusan perempuan saat masa DOM mengalami kekerasan seks. Di Ambon juga terjadi. Di Poso, 45 orang perempuan melapor menjadi korban pelecehan oleh militer. Di Atambua juga sama, kasus ratusan hamil di perbatasan,” ungkap Venny.

Selain karena tidak profesionalnya aparat keamanan, Venny berujar hal ini terjadi lantaran belum ada prosedur operasional standar untuk membatasi aparat di pengungsian. Venny membandingkan dengan pasukan perdamaian yang dikirim ke luar Indonesia.

Mereka telah mengantongi aturan-aturan yang menghindarkan dari celah melakukan kekerasan terhadap perempuan. Contohnya prajurit laki-laki tidak boleh tinggal dalam radius 100 meter dengan perempuan penduduk lokal. Hanya perempuan prajurit yang ditugaskan mendekat.

Selain itu, Komnas Perempuan menilai pengungsian di Indonesia juga tidak peka terhadap perbedaan gender. Kebutuhan spesifik untuk perempuan, kata Venny, jarang menjadi prioritas utama.

Perempuan pengungsi mendapat bantuan yang sama dengan laki-laki. Padahal ada kebutuhan yang khusus, seperti pakaian dalam, pembalut, ataupun kebutuhan lain untuk penanganan kehamilan.

“Terjadi saat tsunami Aceh, mau melahirkan kebingungan tidak ada bidan,” kata dia.

alterntif text
Advertisement
alterntif text
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

Regional1 day ago

Bupati dan Wabup Buka Puasa Bareng Warga Sidrap di Makassar

SIDRAP — Pemkab Sidrap mengadakan buka puasa bersama dengan warga dan mahasiswa Sidrap yang bermukim di Makassar dan sekitarnya, Sabtu...

Regional2 days ago

Pemkab Sidrap ‘Hattrick’ Opini WTP, Target Raih Kembali Tahun Depan

SIDRAP — Pemerintah Kabupaten Sidrap berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tahun 2019. Ini merupakan WTP ketiga secara berturut-turut yang...

Regional6 days ago

RS Arifin Nu’mang Untuk Sementara Tidak Layani Pasien BPJS, Jangan Khawatir, Bisa ke RS Nene Mallomo

SIDRAP — Rumah Sakit Arifin Nu’mang di Rappang Sidrap untuk sementara tidak dapat melayani pasien BPJS Kesehatan. Hal itu tertuang...

Regional6 days ago

Bangun Kepengurusan, HMI Cabang Sidrap Ajak Kader Akhiri Rivalitas

SIDRAP — HMI Cabang Sidrap telah menggelar Rapat Kerja (Raker) pada 19 Mei lalu. Ketua HMI Cabang Sidrap Rifaldi Ramadan...

Regional1 week ago

Pikom IMM Stikes Muhammadiyah Sidrap Kunjungi Masjid Tua Jerra’e

SIDRAP — Pimpinan Komisariat (PIKOM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) STIKES Muhammadiyah Sidrap menggelar Kajian Kebudayaan dengan berkunjung ke Masjid Tua Jerra’e...

Regional1 week ago

Mahmud Yusuf: Jaga Sidrap Tetap Harmonis dalam Keberagaman

SIDRAP — Wakil Bupati Sidrap, H Mahmud Yusuf bersama Dandim 1420 Sidrap Letkol Inf J P Situmorang dan sejumlah pejabat...

Regional1 week ago

Bupati Pinrang Puji Program PI Berbagi, Minta Pengembang Tiru Yasser Latief

PINRANG — Bupati Pinrang Andi Irwan Hamid menghadiri Penyerahan Rumah Tahfiz Alquran, dan buka puasa bersama di Perumahan Graha Lasinrang,...

Regional1 week ago

Wagub Sulsel Hadiri Safari Ramadan di Kecamatan Maritengngae Sidrap

SIDRAP — Safari Ramadan Pemkab Sidrap di Kecamatan Maritengngae, Jumat (17/5/2019) berlangsung spesial. Silaturahmi dan buka puasa di Kantor Camat...

Regional1 week ago

HMI Sidrap Gelar Aksi Tabur Bunga di Depan Kantor KPUD

* HMI Sidrap Turut Berdukacita atas Meninggalnya 554 Petugas KPPS SIDRAP — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sidrap menggelar Aksi...

Regional1 week ago

Sidrap Bidik Peringkat Kabupaten Layak Anak

SIDRAP — Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMDPPA) Kabupaten Sidrap, mengadakan sosialisasi Percepatan Kabupaten Layak Anak (KLA),...

Facebook

Terpopuler